Konflik Antara Karyawan dengan Pimpinan

Konflik Antara Karyawan dengan Pimpinan

Umumnya konflik jenis ini terasa sulit karena sering tak dinyatakan terbuka. Biasanya karyawan lebih cenderung diam, meskipun ada pertentangan pihak atasan. Bagi suatu organisasi, yang terpenting adalah supaya  setiap konflik hendaknya dapat diselesaikan dengan baik. Biasanya suatu konflik menjadi semakin berat dikarenakan lama terpendam. Untuk  itulah penting untuk suatu organisasi “menemukan” sumber konflik sedini mungkin. Sedangkan cara yang mesti ditempuh ialah dengan mengaktifkan saluran komunikasi atas.  Ada berbagai cara yang dapat dipakai dalam menemukan sumber konfliknya, yaitu :

1. Membuat prosedur cara penyelesaian suatu konflik. Melalui prosedur ini akan  memberanikan karyawan dalam mengadu jika dirasakan adanya ketidak adilan. Adanya keberanian agar segera memberitahu masalah merupakan keuntungan bagi perusahaan/organisasi.

2. Observasi langsung. Tak semua konflik bisa disuarakan oleh karyawan. Maka dari itu ketajaman dari observasi pimpinan akan bisa mendeteksi ada tidaknya sumber konflik, hingga bisa segera mengenai sebelum terjadi eskalasi.

3. Kotak saran. Untuk cara seperti ini memang banyak digunakan lembaga-lembaga atau perusahaan lain. Dimana cara ini memang efektif dikarenakan para karyawan yang mengadu tidak perlu untuk bertatap muka dengan seorang pimpinan. Bahkan dapat merahasiakan identitasnya. Tapi lembaga juga mesti hati-hati dikarenakan adanya kemungkinan “fitnah” melalui kotak saran tersebut.


5. Mengangkat konsultan personalia. Umumnya konsultan personalia merupakan seorang yang ahli dalam bidang psikologi. Biasanya merupakan staf atau bagian dari personalia. Terkadang karyawan sangat segan untuk menemui atasannya, tapi dapat menceritakan kesulitannya kepada konsultan psikologi ini.


6. Politik pintu terbuka. Dimana politik ini memang sering diumumkan, tapi hasilnya memang sering tidak memuaskan. Ini sering terjadi dikarenakan pihak pimpinan tak sungguh-sungguh didalam “membuka” pintunya. Inilah yang dirasakan oleh para karyawan. Disamping itu juga adanya keseganan pihak karyawan yang sering menjadi penghalang kepada keberhasilan cara yang semacam ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *